Pages

Monday, April 18

Ketentuan dan Cara Mengutip Karya Ilmiah

  -->
Seringkali didalam penulisan karya ilmiah maupun bentuk-bentuk tulisan lainnya mengambil pendapat dari para ahli ataupun dari sumber lain. Kutipan ini digunakan untuk menegaskan isi uraian dan membuktikan pendapat penulis.
Kutipan merupakan pinjaman pendapat atau kalimat dari seorang pengarang, atau sesorang yang terkenal dan ahli dalam bidang tertentu, baik itu dari tulisan biasa maupun karya ilmiah. Kutipan digunakan untuk mengefisiensikan waktu dan tenaga dalam pembuktian suatu masalah, karena hal tersebut sudah diselediki dan dibuktikan sebelumnya.  Karena itu ha-hal penting dan sudah dikenal luas tidak perlu disilidiki lagi. Penulis cukupmenmgutip pendapat yang dianggapnya benar dan menuliskan sumber data yang dipakainya, sehingga pembaca dapat mencocokkan kutipan dengan sumber aslinya.

Dalam tulisan ini, kelompok kami akan membahasa bagaiman caramengutip pendapat dari karya ilmiah. Sebelum membahas cara pengutipan karya ilmiah, ada baiknya kita mengetahui dahulu jenis kutipan, dan prinsip dasar mengutip.

A. Jenis Kutipan
Menurut jenisnya, kutipan dibedakan mejadi kutipan langsung dan kutipan tidak langsung  (kutipan isi).
Kutipan langsung adalah pinjaman pendapat dengan mengambil secara tepat kata demi kata, kalimat demi kalimat dari sebuah teks asli.

  a. Kutipan Langsung
1) Kutipan Langsung Panjang.
     Kutipan langsung yang lebih dari tiga baris ketikan disebut kutipan langsung panjang. Kutipan semacam ini tidak dijalin dalam teks, tetapi diberi tempat tersendiri. Kutipan langsung panjang diketik dengan jarak baris satu spasi tunggal pada garis tepi baru yang jaraknya empat ketukan huruf dari garis margin. Indensi dari kalimat pertama tujuh ketukan dari garis tepi (margin) atau tiga ketukan dari garis tepi yang baru. Ingat, kutipan langsung panjang tidak diapit dengan tanda kutip.
Contoh:
. . . Banyak batasan yang telah dikemukakan mengenai pengertian definisi. Keraf, misalnya mengemukakan:
Definisi pada prinsipnya adalah suatu proses menempatkan suatu objek yang akan dibatasi ke dalam kelas yang dimasukinya (berarti klasifikasi lagi), dengan menyebutkan ciri-ciri yang membedakan objek tadi dari anggota-anggota kelas lainnya.

2) Kutipan Langsung Pendek.
    Kutipan langsung dapat digolongkan ke dalam kutipan langsung pendek kala,u tidak melebihi tiga baris ketikan. Kutipan ini cukup di¬jalin ke dalam teks dengan meletakkannya di antara dua tanda petik.
Contoh:
Mengenai kalimat efektif Anton M. Moeliono mengemukakan, "Kalimat yang efektif dapat dikenal karena ciri-cirinya yang ber¬ikut: keutuhan, perpautan, pemusatan perhatian, dan keringkasan."

   b. Kutipan tidak langsung.
Kutipan tak langsung adalah pinjaman pendapat seorang pengarang atau tokoh terkenal berupa intisari atau ikhtisar dari pendapat tersebut. Jardi, penulis dapat menggunakan kata-katanya sendiri dalam mengemukakan pendapat ahli tersebut.
Ada perbedaan yang sangat mendasar dari kedua jenis kutipan langsung maupun kutipan taklangsung tersebut. Perlu diingat bahwa semua kutipan langsung yang dicatat harus dimasukkan dalam tanda kutip, sedangkan semua kutipan tak langsung tidak diapit oleh tanda kutip.
Seorang ilmuwan dituntut untuk mampu menyatakan pendapat orang lain dalam bahasa ilmuwan itu sendiri yang mencerminkan ke¬pribadiannya. Kutipan tidak langsung merupakan pengungkapan kembali maksud penulis dengan kata-katanya sendiri. Jadi, yang dikutip hanyalah pokok-pokok pikiran, atau ringkasan dan kesimpulan dari se¬buah tulisan, kemudian dinyatakan dengan bahasa sendiri. Walaupun yang dikutip dari bahasa asing, tetapi tetap dinyatakan dengan bahasa Indonesia.
1) Kutipan Tidak Langsung Panjang
            Kutipan tidak langsung (parafrase) sebaiknya dilakukan sependek mungkin, diperas sedemikian rupa sehingga tidak lebih dari satu paragraf. Namun, karena sesuatu hal kutipan tidak langsung dapat melebihi satu paragraf. Kutipan tidak langsung yang lebih dari satu paragraf inilah yang disebut kutipan tidak langsung yang panjang.
Untuk parafrase yang lebih dari satu paragraf ini menimbulkan kesulitan bagaimana mengidentifikasi bahwa paragraf-paragraf itu me¬rupakan kutipan, karena gaya penulisannya sama dengan gaya.penulis. Untuk mengatasi kesulitan ini, yaitu dengan menyebutkan nama penu¬lis yang dikutip pada permulaan parafrase dan memberikan angka ca¬tatan kaki pada akhir kalimat parafrase.
Contoh:
Bagaimana ujud penalaran ilmiah itu di dalam pelaksanaannya? Berikut ini dikemukakan penjelasan Shurter dan Pierce.
Penalaran induktif merupakan proses penalaran untuk menarik suatu prinsip/sikap yang berlaku umum atau suatu kesimpulan yang bersifat khusus berdasarkan atas fakta-fakta khusus. Penalaran induk tif mungkin merupakan generalisasi, analogi atau hubungan kausal. Generalisasi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa itu. Di dalam analogi, inferensi tentang kebenaran suatu gejala khusus ditarik berdasarkan kebe¬naran gejala khusus yang bersamaan. Hubungan kausal adalah hubungan ketergantungan antara gejalagejala yang mengikuti pola sebab-akibat.
Penalaran deduktif adalah penalaran untuk menarik kesimpulan yang bersifat individual/khusus dari suatu prinsip atau sikap yang berlaku umum. Penalaran itu mencakup bentuk silogisme, yaitu bentuk penalaran deduktif formal untuk menarik kesimpulan dari premis ma¬yor dan premis minor. Kesimpulan di dalam silogisme selalu harus lebih khusus dari premis-premisnya. Bentuk penalaran deduktif lainnva ialah entimem, yaitu bentuk silogisme yang dihilangkan salah satu premisnya. Di dalam kehidupan sehari-hari bentuk inilah vang lebih ba¬nyak dipergunakan.

2) Kutipan Tidak Langsung Pendek
Parafrase yang terdiri dari satu paragraf disebut pendek. Sebaiknya parafrase pendek ini disediakan tempat tersendiri, tidak dibaur dengar teks. Akan lebih balk lagi parafrase itu diambil dari satu sumber. Akan tetapi jika ide, pendapat, atau kesimpulan yang dikutip itu berasal dari bermacam-macam sumber dan sangat mirip satu sama lain, lebih balk diparafrasekan dalam satu paragraf dengan menvebutkan semua sumbernya dalam satu paragraf.
Contoh:
Muass(1975) mengadakan penelitian untuk menjawab masalah apakah perkembangan pemikiran operasional formal tidak dapat dipercepat melalui pengajaran seperti yang mula-mula dikemukakan Piaget. Dari penelitiannya Ia menyimpulkan bahwa pemberian pengalaman-pengalaman belajar yang terarah mempengaruhi struktur pemikiran anak.
Di Indonesia perielitian perkembangan kognitif dengan menggunakan perangkat tugas dari teori Piaget dan perangkat tugas dari Bruner, pernah dilakukan oleh tim penelitian dari Universitas Kris-ten Satya Wacana dengan menggunakan 144 orang sampel dari Salatiga.
Sebaiknya penggunaan kutipan tersebut tidak terlalu panjang, apalegi sampai lebih dari satu halaman, hal ini dimaksudkan agar pembaca tidak lupa bahwa yang sedang dibacanya adalah sebuah kutipan. Karena itu, kutipan sebauiknya diambil seperlunya saja, sehingga tidk mengganggu uraian yang sebenarnya. Bila penulis ingin memasukkan kutipan yang panjang, maka penulis bias meletakkannya di lampiran atau apendiks.

B. Prinsip-prinsip mengutip
a. Jangan mengadakan perubahan
                Pada kutipan langsung, penulis tidak boleh mengambil kata-kata atau teknik dari teks aslinya. Bila pengarang mengangga perlu untuk mengubah teknik ataupun teks aslinya, maka ia harus member keterangan jelas dan menyatakan bahwa ia telah mengadakan perubahan tertentu. Misalnya dalam naskah asli tidak ada kalimat atau bagian kalimat yang diletakkan dalam huruf miring (kursif) atu digaris-bawahi, tetapi oleh pertimbangan penulis kata-kata atau bagian kalimat tertentu itu diberi huruf tegak,huruf miring, atau diregangkan.

b. Bila ada kesalahan, penulis tidak boleh memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Ia hanya boleh mengutip apa adanya.

    Bila dalam kutipan terdapat kesalahan atau keganjilan, entah dalam persoalan ejaan maupun dalam soal-soal ketatabahasaan, penulis tidak boleh memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Ia hanya boleh mengutip apa adanya.
Kutipan dapat dilakukan hanya penulis diperkenankan mengadakan perbaikan atau catatan terhadap kesalahan tersebut. Perbaikan atau catatan ini dapat ditempatkan sebagai catatan kaki, atau dapat pula dengan menggunakan tanda kurung segiempat [….]. Catatan dalam kurung segi empat itu langsung ditempatkan dibelakang keta atau unsur yang hendak diperbaiki. Misalnya jika tidak setuju dengan bagian itu, maka biasanya diberi catatan singkat: [ sic! ]. Kata sic! Yang ditempatkan dalam kurung segiempat menunjukkan bahwa penulis tidak bertanggung jawab atas kesalahan itu, ia hanya sekedar mengutip sesuai dengan apa yang terdapat dalam naskah aslinya.
Perhatikan contoh dibawah ini:
“Penelitian yang tepat selama beberapa tahun saja telah meruntuhkan bangunan mental kita yang kokoh itu. Ilmu pengetahuan yang tersembunyi dalam perpustakaan masyarakat yang serba rahasia itu sekarang telah banyak yang ditemukan. Abad penjelajahan angkasa luar sudah bukan lagi abad serba rahsaia [ sic! ]. Kita sekarang telah dapat mendaratkan manusia di bulan. Dengan penjelajahan mengangkasa, kita mencita-citakan untuk mencapai matahari dan bintang-bintang. Dengan itu pula kita menduga atau mengukur kedalaman “Jurang-jurang” masa
lampau kita..”
            Kata rahsaia dalam kalimat tersebut mengalami kesalahan pengetikan, seharusnya rahasia. Tetapi penulis tidak boleh langsung memperbaiki kesalahan itu. Ia harus memebri catatan bahwa ada kesalahan, dan ia sekedar mengutip sesuai dengan teks aslinya. Untuk karya-karya ilmiah penggunaan sic! Dalam tanda kurung segi empat yang ditempatkan langsung dibelakang kata atau bagian yang bersangkutan, dirasakan lebih baik.

c. Menghilangkan bagian kutipan
Dalam kutipan-kutipan diperkenankan pula menghilangkan bagian-bagian tertentu dengan syarat bahwa penghilangan bagian itu tidak boleh mengakibatkan perubahan makna aslinya atau makna keseluruhannya. Penghilangan itu biasanya dinyatakan dengan mempergunakan tiga titik berspasi [. . .]. jika unsur yang dihilangkan itu terdapat pada akhir sebuah kalimat, maka ketiga titik berspasi itu ditambahkan sesudah titik yang mengakhiri kalimat itu. Bila bagian yang dihilangkan itu terdiri dari satu alenia atau lebih, maka biasanya dinyatakan dengan titik-titik berspasi sepanjang satu baris halaman. Dalam hal ini sama sekali tidak diperkenankan untuk menggunakan garis penghubung [ - ] sebagai pengganti titik-titik. Bila ada tanda kutip, maka titik-titik itu baik pada awal kutipan maupun pada akhir kutipan harus dimasukkan dalam tanda kutip sebab unsur yang dihilangkan itu dianggap sebagai bagian dari kutipan.
Contoh :
Hal ini cocok dengan kehidupan para kepala itu sebagai pemimpin masyarakat, tetapi juga sebagai pemimpin upacara-upacara keagamaan. Kata Mallinckrodt:”. . . in primitieve streken is werkzaamheid van het hoofd met btrekking tot de godsdienst een zijner voornaamste functies en de rechtspraak, op bovenbedoelde wijze opgevat, word teen ten deele religieuze verrichting die het magisch evenwicht der gemeenschap herstellen moet.”1
C. cara-cara mengutip
Perbedaan antara kutipan langsung dan kutipan tidak langsung (kutipan isi) akan menbawa akibat yang berlainan pada saat memasukkannya dalam teks. Begitu pula cara membuat kutipan langsung akan berbeda pula menurut panjang pendeknya kutipan itu. Agar tiap-tiap jenis kutipan dapat dipahami dengan lebih jelas, perhatikanlah cara-cara berikut:
a. Kutipan langsung yang tidak lebih dari empat baris
Sebuah kutipan langsungh yang panjangnya tidak lebih dari empat baris ketikan, akan dimasukkan dalam teks dengan cara-cara berikut:
1)      Kutipan itu diintegrasikan langsung dengan teks;
2)      Jarak antara baris dengan baris dua spasi
3)      Kutipan itu diapit dengan tanda kutip
4)      Sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan setengah spasi ke atas atau dalam kurung ditempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman tempat terdapat kutipan itu.



_______________________
1 R.M Koentjaraningrat, Beberapa Metode Antropologi, (Djakarta. 1985) hal. 355. Teks sudah disesuaikan dengan ejaan yang disempurnkan.
2Singkatan ibid., op. cit.,  atau loc. cit.  biasanya digunakan untuk menyebut karya yang sudah disebut dalam penyebutan selanjutnya.
Nomor urut penunjukkan mempunyai pertalian dengan nomor urut penunjukkan yang terdapat pada catatan kaki. Nomor penunjukkan ini bias berlaku untuk tiap bab, dapat pula berlaku untuk seluruh karangan tersebut. Masing-masing cara tersebut akan membawa  konsekuensi tersendiri. Pada nomor urut penunjukkan yang hanya berlaku pada tiap bab, maka pertama, pada tiap bab akan dimulai dengan nomor urut 1 ;
kedua, untuk penunjukkan yang pertama dalam tiap bab, nama pengarang harus disebut secara lengkap, sedangkan penunjukkan selanjutnya dalam bab tersebut cukup dengan menyebut nama sengkat pengarang, ditambah penggunaan singkatan-singkatan ibid., op. cit.,  atau loc. cit. 2 sebaliknya bila nomor  urut penunjukkan berlaku untuk seluruh karangan, maka hanya untuk penyebutan pertama, nama pengarang ditulis secara lengkap; penyebutan selanjutnya hanya mempergunakan nama singkat, dan singkatan-singkatan sebagai mana tertulis diatas.
­­­­­­­­­­­Misalnya :
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Guru tak dapat memperhatikan muridnya seorang demi seorang. Dalam seminar “The teaching of modern languages” oleh secretariat UNESCO di Nuwara Eliya, Sailan, pada bulan Agustus 1953 dikatakan: Because of the very special nature of language teaching us well on general educational grounds, it is vital that classes should be small (hal. 50). Untuk itu waktu yang . . .
            Jadi kalimat Because of the very special nature of language, . . . dst. merupakan  suatu kutipan, tetapi kutipan itu tidak lebih dari empat baris ketikan. Oleh karena itu kutipan itu harus diintegrasikan dengan teks, serta spasi antara baris adalah spasi rangkap. Tetapi sebagai pengenal bahwa bagian itu merupakan kutipan, maka bagian itu ditempatkan dalam tanda kutip.
            Bila mempergunakan cara yang kedua, maka kutipan langsung ditempatkan nama pengarang (singkat), tahun dan halaman dalam kurung.
b. Kutipan langsung yang lebih dari empat baris
            Bila sebuah kutipan terdiri dari lima baris atau lebih, maka seluruh kutipan itu harus digarap sebagai berikut :
3Harimurti Kridalaksana, Seminar Bahasa Indonesia 1968, (Ende, 1971), hal. 225 - 226
1)      Kutipan itu dipisahkan dari teks dalam jarak 2,5 spasi;
2)      Jarak antara baris dengan baris kutipan satu spasi;
3)      Kutipan itu tidak boleh atau tidak diapit dengan tanda kutip;
4)      Sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan setengah spasi ke atas atau dalam kurung ditempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman tempat terdapat kutipan itu;
5)      Seluruh kutipan itu dimasukkan ke dalam 5 – 7 ketikan; bila kutipan itu dimulai dengan alenia baru, maka baris pertama dari kutipan itu dimasukkan lagi 5 – 7 ketikan.
Kadang-kadang terjadi bahwa dalam kutipan itu terdapat lagi kutipan. Dalam hal ini dapat ditempuh dua cara:
1)      Mempergunakan tanda kutip ganda [ “. . .” ] bagi kutipan asli dan tanda kutip tunggal [ ‘ . . . ‘ ] bagi kutipan dalam kutipan itu, atau sebaliknya;
2)      Bagi kutipan asli tidak dipergunakan tanda kutip, sedangkan kutipan dalam kutipan itu mempergunakan tanda kutip ganda.
Untuk jelasnya, perhatikanlah ketiga contoh berikut. Masing-masing memperlihatkan kutipan langsung yang mempergunakan tanda kutip, yang tidak mempergunakan tanda kutip, dan yang mempergunakan dua jenis tanda kutip.
Contoh a:Mempergunakan tanda kutip
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Terjemahan karya ilmiah dalam bahasa Indonesia yang tidak memuaskan karena para penerjemah tidak terlatih dalam ilmu penerjemahan (suatu aspek linguistic terapan yang telah menjadi disiplin ilmiah tersendiri).
         Misalnya salah satu terjemahan buku ilmu pengetahuan popular diprakatai dengan :
            “suatu pikiran yang telah tersebar dengan luas sekali di kalangan orang banyak menggambarkan buku-buku sebagai benda-benda yang tidak berjiwa, tidak efektif [sic!], serba damai pada tempatnya sekali berada dalam kelindungan-kelindungan sejuk dan ketenangan akademis dari biara-biara dan universitas-universitas dan tempat-tempat pengasingan diri yang lain yang jauh dari dunia yang jahat dan matreliaistis ini” (Asrul Sani 1959:7).
Buku aslinya berbunyi. . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Contoh b: Tidak mempergunakan tanda kutip
            Contoh di atas dapat pula ditempatkan dalam bagian tersendiri tidak mempergunakan tanda kutip. Dalam hal ini tidak akan timbul keragu-raguan, karena bagian yang dikutip ditempatkan agak ke dalam, serta jarak antara baris adalah spasi rapat. Perhatikan bagaimana cara menulis kutipan di atas tanpa mempergunakan tanda kutip:
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Terjemahan karya ilmiah dalam bahasa Indonesia yang tidak memuaskan, karena para penerjemah tidak terlatih dalam ilmu penerjemahan, suatu aspek linguirtik terapan yang telah menjadi disiplin ilmiah tersendiri).
         Misalnya salah satu terjemahan buku ilmu pengetahuan popular diprakatai dengan:
Suatu fikiran yang salah yang tersebar  dengan luas sekali dikalangan orang banyak banyak menggambarkan buku-buku sebagai orang tak berjiwa, tidak efektif serta damai pada  tempatnya sekali berada dalam kelindungan-kelindungan sejuk dan ketenangan akademis dari biara-biara dan universitas-universitas dan tempat-tempat pengasingan dan gan diri yang lain yang jauh drai dunia yang jahat materilistis ini. (Asrul Sani, 1959:7)
Buku aslinya berbunyi: . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Contoh c: Mempergunakan dua jenis tanda kutip
Bila dalam sebuah kutpan terdapat pula kutipan, maka keduanya dibedakan dengan mempergunakan tanda kutip berlainan. Untuk itu, perhatikanlah contoh berikut:
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Masih ada pendapat lain tentang konflik iru. Untuk tidak salah tanggap, pembicara kutip disini sepenggal tanggapan Mh. Rustandi Kartakusuma tentang apa itu sebenarnya yang disebut dramatik, dalam prakata dramanya: Merah semua, putih semua:
“Dramatik timbul oleh pertentangan (konflik); pertentangan dengan alam, dengan diri sendiri, dengan manusia sesame, dengan lingkungan. Pertentangan menimbulkan lakon, menimbulkan plot (alur) atau intrigue. Akan tetapi pertentangan sendiri dimungkinkan oleh apa? Apa sumber pertentangan?
Syahdan sumber pertentangan tiadalah lain selain jiwa manusia. Jiwa manusia sebagai benda logam yang berat bermuatan listrik. Bila bertemu dengan benda lain yang berlistrik maka timbullah dramatik: ‘sebelum kutarik handle ini dan electron berloncatan dari kutub ke kutub ungu, gelora panas-bangis . . .’
Jadi, dasar dramatika yang paling dalam adalah kejiwaan manusia, ‘benda bermuatan listrik’, yang voltasenya labih dari seribu.”
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .5
Seperti halnya dengan contoh b, maka contoh diataspun dapat ditempatkan dalam cara lain, yaitu tidak mempergunakan tanda kutip. Dalam hal ini kutipan dalam kutipan itu dapat ditempatkan
c. Kutipan tak langsung
dalam kutipan tak langsung, biasanya inti atau sari pendapat itu dikemukakan. Sebab itu kutipan itu tidak boleh mempergunakan tanda kutip. Beberapa syarat harus diperhatikan untuk membuat kutipan tak langsung:
1)      Kutipan itui diintegrasikan dengan teks;
2)      Jarak antar baris dua spasi;
3)      Kutipan tidak diapit dengan tanda kutik;
4)      Sesudah kutipan selesai diberi nomor urut menunjukkan setengah spasi keatas, atau dalam kurung ditempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman tempat terdapat kutipan itu.
Contoh
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Pertama-tama harus dibedakan dahulu antara kata ‘aksen’ dan ‘tekanan’. Dalam istilah ilmu bahasa ‘aksen’ tidak sama dengan ‘tekanan’. Aksen lebih luas maknanya dibandingkan dengan tekanan.
____________________
5Lukman Ali, ed., Bahasa dan Kesustraan Indonesia (Jakarta, 1967), hal. 164 – 165.
Ejaan yang telah disesuaikan
Tenda aksen dalam suatu bahasa memperbedakan suku-suku kata (yang sama bentuk fenomik-sigmentalnya) dengan jalan titinada, kontur lagu, jangka bunyi dan tekanan. Dengan perkataan lain, tekanan itu hanya satu bagian dari tata aksen, disamping unnsur titinada, kontur dalam jangka.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .21
Pada catatan kai dengan nomor urut penunjukkan 21 kita dapat membaca penjelasan sebagai berikut
­­­­­­­­­­­­­______________________
21 Hockett, op. cit. hsl. 33 – 35; dan selanjutnya juga Hockett, “A Manual of Phonology” Indiana University Publications in Anthropology and Linguistics, Memoir II, 1995; hal. 43 - 66
Hal itu menunjukkan pada bahwa inti dari teks tersebut diatas sebenarnya adalah suatu sari dari uraian yang lebih panjang, sebagai dapat dibaca dalam tulisan Hockett. Sebagai sudah diterangkan diatas, nomor teks sama dengan nomor penunjukkan yang terdapat pada catatan kaki halaman yang bersangkutan.

d. Kutipan pada catatan Kaki.
Selain kutipan yang telahditerangkan diatas, ada pula kutipan yang diletakkan pada catatan kaki. Bila cara demikian yang dipergunakan, maka kutipan demikian selalu ditempatkan dalam spasi rapat biarpun kutipan tersebut singkat. Kutipan tersebut harus dimasukkan dalam tanda kutip, dan dikutip sesuai dengfan teks aslinya.
Pernvataan ilmiah yang kita pergunakan dalam tulisan kita harus mencakup beberapa hal. Pertama kita harus dapat mengidentifikasikan orang yang membuat pernyataan tersebut. Kedua, kita harus pula da¬pat mengidentifikasikan media komunikasi ilmiah tempat pernyataan itu dimuat atau disampaikan, misalnya buku, makalah, seminar, lokakarya, majalah, dan sebagainya. Ketiga, harus pula dapat kita identifi¬kasikan lembaga yang menerbitkan publikasi ilmiah tersebut serta tem¬pat dan itu tidak diterbitkan, tetapi disampaikan dalam bentuk maka¬lah dalam seminar atau loka karya, maka harus disebutkan tempat, waktu, dan lembaga yang melakukan kegiatan tersebut.
Cara kita mencantumkan ketiga hal tersebut dalam tulisan ilmiah kita, disebut teknik notasi ilmiah. Sebetulnya terdapat bermacam-¬macam teknik notasi ilmiah yang pada dasarnya mencerminkan hakikat dan unsur yang sama, meskipun dinyatakan dalam format dan simbol yang berbeda. Seorang ilmuwan dapat memilih notasi ilmiah yang telah diakui, asalkan dipergunakan secara konsisten. Jangan men-campuradukkan beberapa teknik notasi ilmiah sekaligus, karena hal ini akan membingungkan pembaca. Demikian pula halnya dengan daf¬tar pustaka.
            Di bawah ini dapat dipelajari teknik notasi ilmiah yang mempergunakan catatan kaki (footnote). Fungsi catatan kaki ini ialah menun¬jukkan sumber informasi bagi pernyataan ilmiah yang terdapat dalam tulisan kita. Fungsi lain dari catatan kaki ini sebagai tempat bagi catat¬an-catatan kecil yang kalau disatukan dengan uraian akan mengganggu kelancaran penulisan. Jadi, catatan kaki juga berfungsi untuk memberi keterangan tambahan. Tetapi kalau keterangan tambahan ini panjang sekali, sebaiknya dipindahkan ke belakang (lampiran).
Seperti yang sudah dijelaskan dalam uraian sebelumnya, semua kutipan, langsung maupun tidak langsung, harus dijelaskan dari mana sumbernya. Untuk makalah biasanya langsung dicantumkan sumbernya di belakang kutipan dan dituliskan dalam tanda kurung, penga¬rang, tahun, halaman. Sumber yang lengkap tercantum dalam daftar pustaka.
Contoh:
... Sahono Soebroto mengatakan bahwa tugas administrasi negara mencakup semua aspek kehidupan nasional bangsa. (Sahono Soebroto, 1982: 7).
            Untuk skripsi, disertasi, atau proyek paper dan buku, sumber di-nyatakan dalam bentuk catatan kaki (footnote).
1)      Fungsi Catatan kaki dicantumkan sebagai pemenuhan kode etik yang berlaku, sebagai penghargaan terhadap karya orang lain.
2)      Pemakaian Catatan kaki dipergunakan sebagai:
a.       Pendukung keabsahan penemuan atau pernyataan penulis yang tercantum di dalam teks atau sebagai petunjuk sumber;
b.      Tempat memperluas pembahasan yang diperlukan tetapi tidak relevan jika dimasukkan dalam teks, penjelasan ini dapat berupa kutipan pula.
c.       Referensi silang, yaitru petunjuk yang menyatakan pada bagian mana/halaman berapa, hal yang sama dibahas dalam tulisan;
d.      Tempat menyatakan penghargaan atas karya atau data yang diterima dari orang lain.
3)      Penomoran
            Penomoran catatan kaki dilakukan dengan menggunakan ang-ka Arab (l, 2, dan seterusnya) di belakang bagian yang diberi ca-tatan kaki, agak ke atas sedikit tanpa memberikan tanda baca apapun. Nomor itu dapat berurut untuk setiap halaman, setiap bab, atau seluruh tulisan. Namun sebaiknya untuk lebih efektif berurut untuk seluruh tulisan.
Walaupun diatas telah dikemukakan bahwa kutipan yang panjang sekali lebih baik ditempatkan di dalam apendiks atau lampiran, namun ada juga pengarang yang beranggapan bahwa kutipan semacam itu lebih baik ditempatkan pada catatan kaki, agar lebih mudah bagi pembaca untuk memeriksanya.
Contoh:
 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Barbagai penyelidikan tentang akulturasi yang dilakukan oleh para sarjana ilmu anthropologi-budaya bangsa Amerika memang telah menunjukkan bahwa penyelidikan-penyelidika akan peristiwa perpaduan kebudayaan yang dipandang dari sudut kompleks-kompleks unsur-unsur yang khusus, telah member hasil yang memuaskan. Karena itu Herskovits beranggapan bahwa pandangan yang paling berguna didalam penyelidikan akulturasi. 2
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
Pada catatan kaki halaman yang sama, dibawah nomor urut penunjukkan 2, dapat dibaca kutipan langsung seperti dibawaah ini:
___________________
2Kata beliau, “However desirabla studies of changes whole culture may thus be, it seems most advantegous in practice for the student to analyse into its components the culture that has experienced contact. . . one can no more study ‘whole cultures’ than one take as the subject for a specific research project the human body in its entirety. . .”(M.J. Herskovits, 1948:536)

Sebagai tampak dari contoh diatas, kutipan itu dibuat dalam spasi rapat; kata ‘whole culture’ mempergunakan tanda kutip tunggal, karena tanda kutip ganda sudah dipergunakan untuk seluruh kutipan itu. Begitu pula perhatikan bagaimana bagian-bagian yang ditinggalkan dari teks asli diganti dengan titik berspasi.
Sumber : Keraf, Gorys. 1979. Komposisi. Flores: Nusa Indah
                                 http//mbahbrata-edu.blogspot.com
_____________________________________
4R.M Koentcaraningrat, Op. Cit., hal. 432-433

No comments:

Post a Comment